Misteri Makam Syeh Nurjati Ishak (1)

loading...
(Makam Syeh Nurjati Ishak)

Sejak empat tahun yang lalu Desa Kedungrejo khusunya duun Luwuk mempunyai tradisi yaitu peringatan Haul terhadap makam leluhur yang diyakini merupakan  sosok yang berpengaruh dimasanya dan kini warga dusun tersebut menjadikan peringatan Haul tersebut sebagai agenda kearifan lokal tahunan.

Peringatan Haul yang dielenggarakan setiap tanggal 16 Zulhidzah tersebut adalah untuk mengenang kearifan dan juga suri tauladan dari ” Syeh Nurjati Ishak Bin Mas Aryo Hadi Manggolo Bin Prabu Kijan Jati “  atau biasa disebut ” Syeh Nurjati Ishak”.

Keberadaan makam itu sendiri bukan tergolong baru bagi warga setempat, lokasi pemakaman yang berada lahan pertanian warga  tepatnya di utara dusun Luwuk tersebut, mulanya juga dianggap warga sama seperti makam – makam yang berada dikuburan umum, dan warga pun menjuluki makam tersebut dengan nama “Kuburan Wiyothok”.

Menurut cerita yang turun temurun dari warga setempat, dulu ada seorang penjual dandang (alat penanak nasi tradisional ) keliling yang membawa daganganya dan karena kemalaman pedagan tersebut singgah di tempat tersebut untuk beristirahat, singkat cerita dalam istiratnya tersebut ia didatangi oleh sekawanan perampok yang mengira barang – barang yang  bungkus tersebut adalah barang berharga dan sekawanan perampok tersebut berusaha mengambilnya, dengan sekuat tenaga pedagan g dandang tersebut mempertahankan barang bawaanya, namun karena tak mamapu mempertahankan barang bawaanya , perampok tersebut berhasil merebut barang yang dibawa oleh pedangaang tersebut.

(Gapura Masuk Makam Syeh Nurjati Ishak)

Dan setelah mendapatkan barang yang direbutnya perampok tersebut lalu membuka bungkusan itu karena penasaran dengan isi yang ada didalamnya, namun alangkah terkejut dan kagetnya perampok tersebut bahwa yang berada dalam bungkusan tersebut bukanlah barang berharga seperti yang diharapkanya, tapi hanyalah sebuah dandang, karean kecewa dan sangking marahnya maka sekawanan perampok tersebut kemudian membunuh  pedagang dandang tersebut dan pedagang dandaang itupun ahirnya meninggal diatas hamparan rumput jenis “Kiokot”.

Karena meninggal diatas hamparan rumput ” Kiokot”  dan warga pun tak mengetahui identitas dari pedagang dandang tersebut, maka  setelah warga mengubur mayat korban itu kemudian, untuk menamai siapa yang terkubur didalamnya maka warga sepakat memberikan nama “Wiyothok”.

Namun semenjak 4 tahun yang lalu ada salah sau warga yang mendapat petunjuk dari seseorang yang berasal dari desa Karangdowo Kecamatan Jenu, bahwa makam yang dianggap sebagai makam atau kuburan dari penjual dandang tersebut adalah makam dari salah satu Waliyullah, yang dulunya ikut berjuan menyebarkan agama islam diseputran desa Kedungrejo.

-Bersambung…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *