Kearifan Lokal Yang Kian Terkikis

loading...
(Acara Mauludiyah)

Sudah menjadi tradisi turun temurun, setiap tanggal 12 Rabiul Awal warga desa Kedungrejo yang berpenduduk muslim selalu merayakan peringatan kelahiran Nabi agung Muhamad S.A.W, dengan berbagai kegiatan dan acara, ada yang Shalawatan, ada yang pengajian dan bahkan ada yang hanya kenduren saja untuk memperingati hari kelahiran Nabi tersebut.

Di Mushola – mushola dan Masjid semua saling mengadakan acara peringatan hari besar islam tersebut, namun kegiatan keagamaan tahaun – tahun ini sangat berbeda jauh dengan tahun era 80 kebawah  hingga 90 an, dimasa itu setiap kali ada peringatan hari besar islam yang bersinggungan langsung dengan ambeng (tumpeng) baik acara Mauludan, Megengan (Menyambut Ramadan) Maleman (Malam ganjil di akhir ramadan) Kupatan dan lain sebagainya, semuanya di tempatkan di rumah Kepala Desa, rumah Kepala Dusun, ataupun dibalai desa, jadi dimasa itu semua warga berduyun – duyun datang ketempat tersebut, untuk melaksanakan acara kenduren bersama – sama, karena semua merujuk dengan aturan pihak pamong desa untuk menentukan tanggal dan hari pelaksanaan kegiatan itu.

Seiring dengan berkembangnya pengetahuan kegiatan keagamaan seperti peringatan Maulud Nabi yang dulu hanya sekedar Kondangan (Kenduren) dan hanya dibacakan do’a oleh Modin atau Tukang Tanduk, kini pun diisi dengan berbagai macam kegiatan seperti yang sudah saya tulis diatas.

Namun, rasa kebersamaan itu yang dulu kental dikalangan pedesaan terasa sudah mulai terkikis, ditambah lagi himbaun dari pihak yang berwenang di desa pun juga menganjurkan dalam pelaksananaya terserah kapan yang menurutnya pas menurut lingkungan masing  – masing dalam desa tersebut.

Memang tidak ada yang salah kapanpun melaksanakan peringatan – peringatan hari besar islam apalagi kalau merayakan peringatan kelahiran Nabi.

Dan semoga dengan peringatan Maulud Nabi ini kita mendapatkan rahmat Allah berupa taman surga dan dibangkitkan bersama-sama golongan orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang yang sholeh.

Imam Sirri Saqathi Rahimahullah  berkata:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة النبي صلى الله عليه وسلم : وقد قال صلى الله عليه وسلم: من أحبني كان معي في الجنة.

Artinya:

“Barang siapa menyengaja (pergi) ke suatu tempat yang dalamnya terdapat pembacaan maulid nabi, maka sungguh ia telah menyengaja (pergi) ke sebuah taman dari taman-taman surga, karena ia menuju tempat tersebut melainkan kecintaannya kepada baginda rasul. Rosulullah bersabda:  barang siapa mencintaku, maka ia akan bersamaku di syurga.

Sedangkan Imam Syafi’i Rohimahullah berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ، ويكون في جنات النعيم.

Artinya :

“Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan dia akan dimasukkan dalam syurga na’im.”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *